Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Monday, 12 May 2014

Profil Komunitas Sampela Lengge Maria (KSLM) Wawo



KM.LENGGE WAWO,- Komunitas Sampela Lengge Maria (KSLM) Wawo adalah sebuah kelompok yang bergerak dalam bidang adat dan budaya di Kecamatan Wawo yang resmi berdiri Pada Sabtu, 29 September 2012 di Desa Maria dengan pencetus/pendirinya Adi Irawan, S.Pd dan ketua umum pertama Briptu Ramadhan. Komunitas ini terstruktur dibawah naungan AliansiMasyarakat Adat Nusantara (AMAN), memiliki visi dan misi yang jelas dalam mengembalikan, melestarikan, memajukan dan mensosialisasikan adat dan budaya yang ada Kecamatan Wawo dan meninggikan martabat masyarakat adat mulai skala regional, nasional sampai internasional. Komunitas Sampela Lengge Maria Wawo memiliki motto atau pedoman yang diadopsi bersumber dari ajaran etika dalam kehidupan masyarakat Mbojo yaitu “Maja Labo Dahu” yang merupakan wahana pendorong semangat dan kebulatan tekad untuk berbuat baik, berwatak kesatria, memupuk rasa kesetiakawanan sosial dan mengutamakan kepentingan masyarakat banyak dari pada kepentingan pribadi. 

Nama komunitas ini diadopsi dari bangunan Lengge yang merupakan situs budaya dan ciri khas bangunan kebanggaan masyarakat Wawo yang berabad-abad lamanya berdiri kokoh ditengah kemajuan pembangunan dalam bidang insfrastruktur yang serba canggih dengan corak yang sangat modern. Bangunan Lengge tersebut posisinya berada tepatnya di Desa Maria Kec. Wawo dengan tetap menampilkan keaslian bangunan tersebut. Pembentukan komunitas ini terinspirasi dari kemajuan adat dan budaya yang ada di Bali yang berdampak pada pembentukan karakter sumber daya manusia Bali yang beradat dan berbudaya sehingga Bali memiliki ciri khas tersendiri dimata negara-negara dunia. Dengan adat dan budaya yang kuat disamping dukungan masyarakat yang menjujung tinggi nilai-nilai adat dan budayanya sehingga wisatawan baik dari Domestik maupun mancanegara berdatangan ke Bali dan berefek terhadap peningkatan taraf ekonomi masyarakat setempat. Dari hal demikian sehingga kami bersemangat untuk membentuk komunitas ini karena di Kecamatan Wawo sangat kaya akan adat dan budaya peninggalan nenek moyang yang sampai sekarang masih ada dan sebagian adat dan budaya tersebut sudah ditelan oleh perkembangan jaman yang semakin modern dengan gaya hidup generasi muda kian hari bertambah lupa bahkan tidak tahu akan kekayaan peradaban adat dan budaya peninggalan pendahulunya. Dari permasalahan demikian komunitas ini bertujuan untuk mengembalikan, melestarikan dan memajukan adat dan budaya setempat dan meninggikan martabat masyarakat. Komunitas Sampela Lengge Maria Wawo memiliki agenda program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang dalam menggapa cita-cita yang di idamkan, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses kesabaran, perjuangan yang matang dari pengurusnya dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat setempat. 

Menengok kekayaan dan kejayaan sejarah adat dan budaya masa lampau, patut diakui bahwa masyarakat Wawo memiliki aturan hidup tersendiri yang harus ditaati dan dijalankan oleh semua warga yang mendiami di wilayah tersebut. Aturan tersebut tidak bertentangan dengan aturan UU negara dan syari,at agama Islam yang merupakan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakatnya.

Adapun kekayaan adat dan budaya yang masih ada dan sudah punah (dilupakan) di Kec. Wawo yang harus dikembalikan, dikembangkan dan dilestarikan oleh komunitas ini dan masyarakat setempat, antara lain: 1. Adat melamar seorang gadis untuk menjadi calon istri yang disebut Panati; 2. Adat menempatkan tamu-tamu dalam sebuah upacara adat; 3. Adat menempatkan makanan dan jajan dalam acara adat; 4. Adat bertamu di rumah orang; 5. Adat berpakaian bagi laki-laki dan perempuan; 6. Adat mandi di tempat terbuka; 7. Adat berbicara dengan orang tua, pejabat dan orang sebaya; 8. Adat makan dan minum; 9. Adat (bahasa) memanggil orang untuk ikut acara adat dll; 10. Adat perkawinan dan perceraian; 11. Adat pergaulan pemuda dan pemudi; 12. Adat kerja bagi hasil. Adapun budaya, antara lain: 1. Gotong royong; 2. Ndece (Weha Rima); 3. Ngge’e nuru; 4. Karawi nuru (sumbangan kerja) pada orang tua calon istri; 5. Penentuan bersama untuk hari, bulan untuk mulai kegiatan pertanian, sawah dan ladang; 6. Penentuan hari dan bulan untuk mulai panen hasil; 7. Teka ro ne’e pada keluarga yang punya acara do’a atau selamatan; 8. Kebiasaan bantu-bantu pada musim paceklik (kelaparan); 9. Budaya saling menasihati antar sesama tanpa membedakan ras dan golongan; 10. Budaya silahturahmi antar keluarga sampai nasab yang ke-7, adapun urutan atau susunan nasab ke-7 yaitu: Anak, Ama, Ompu, Waro, Suri, Babende, Babau dan baboa; 11. Mengembalikan budaya maja labo dahu yang bermakna beriman dan bertakwa.

Adapun Kesenian tradisional yang ada di Kecamatan Wawo dibagi menjadi 3 macam, antara lain: seni tari, seni suara dan seni musik. Seni tari tradisional antara lain: tari manca, tari buja kadanda, tari rebo, tari maka tua, tari sampari dan tari wura bongi monca. Seni suara tradisional terdiri dari: Seni rawa mbojo, rawa sagele, patu nu’a, patu panati, zikir kapanca / zikir maulid nabi, zikir donggo mara, zikir tua mbojo dan zikir hadrah. Sedangkan seni musik antara lain: Seni musik gendang, Silu, Sarone, Katongga haju, katongga o’o, gambus, ketipung, gong dan kareku kandei.

Disamping keseniannya Kecamatan Wawo memiliki kekayaan kearifan lokal yang kaya akan makna dan nilainya, antara lain: Anyam bakul dari bambu, anyam nyiru dari bambu, anyam topi dari bambu, anyam tikar dari daun pandan, anyam kampao cila dari rotan, anyam alas periuk dari humpa, menggosok mata cincin dari batu aji, menenun sarung bima dari benang nggoli, menenun here loko (ikat pinggang) dari benang nggoli, menenun bahan baju mbojo dari benang nggoli, menenun sambolo (topi) dari benang dan membuat alat tenun dari bahan kayu antara lain: tampe, lihu, cau, tandi, taropo, janta, kisi, langgiri, ale dan janta.

Kearifan lokal membuat nasi santan dari berbagai jenis beras selain dari padi, antara lain: nasi santan dari beras jawawud, nasi santan dari beras gandum (latu), nasi santan dari beras karuku, nasi santan dari beras pejo, nasi santan dari beras kacang panjang, nasi santan dari beras lawu’i, nasi santan dari beras kacang hijo dan nasi santan dari beras kedelai. Kearifan lokal dalam membuat sambal (doco) antara lain: sambal yang menggunakan terasi dan sambal yang menggunakan kepiting air tawar.

Kearifan lokal dalam membuat sayur, antara lain: sayur asam khas wawo, sayur santan khas wawo, sayur manis khas wawo dans sayur gude khas wawo. Sedangkan kearifan lokal dlam membuat mangge mada, antara lain: mangge mada ayam dengan kahuntu kalo dan mangge mada ikan laut dengan buah mangga muda dengan buah pisang kalo goa yang masih muda.

Bangunan bersejarah di Kecamatan Wawo yang masih lestari sampai sekarang, antara lain: rumah tradisional wawo, kolam pemandian oi wobo, rumah penginapan pasanggerahan dan kebun raja lewi ruma sangaji. Adapun tempat-tempat bersejarah yang masuk skala nasional, antara lain: kuburan ncuhi maria, batu lesung gendi, batu lesung doro tawoa, batu lesung kaliwu, batu lesung rida lenggo, batu lesung jalamba, batu lesung riamau dan batu lesung so tantu. Tempat-tempat bersejarah yang belum masuk skala nasional, antara lain: benteng pertahanan sori kuta maria, benteng pertahanan moja ntori, markas/gudang senjata so bedi di bangguwa, kuburan ncuhi maria di maria, wadu sigi doro ntori di dusun Fo’omboto Desa Maria, kuburan ruma-ruma di so bangguwa di desa ntori dan hutan adat di rade rasa sambu. Sedangka upacara adat dou maria, antara lain: upacara adat khitanan (zikir kapanca), acara adat boho oi mbaru, upacara adat do’a dana, upacara adat sesi ampa fare di rumah lengge, upacara adat antar mahar, upacara adat nika neggu, upacara adat maulid nabi, upacara adat idul fitri, upacara adat idul adha, upacara adat do’a aqiqah, upacara adat tio riana (mertua), upacara adat do’a panta cu’a dan upacara adat wonto cu’a.

Semua kekayaan adat dan budaya yang ada di Kecamatan Wawo tersebut merupakan anugerah dan karunia yang di berikan oleh Allah SWT kepada kita semua yang patut kita syukuri bersama. Oleh sebab itu kekayaan adat dan budaya merupakan perkerjaan rumah yang harus kita hidupkan, lestarikan dan dikembang oleh Komunitas Sampela Lengge Maria Wawo dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah setempat. Walaupun di era globalisasi dengan gaya hidup masyarakatnya yang modern, semoga dengan kehadiran komunitas ini diharapkan masyarakat yang ada didalamnya mampu terbangun pola pikir modern/maju tanpa menghilangkan dan tetap menjujung tinggi nilai adat dan budaya daerah. Kalau masyarakat setempat beradat, berbudaya dan menjunjung tinggi kearifan lokal yang berada dalam masyarakat tersebut, maka cita-cita bersama untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur akan tercapai. Terlebih lagi Insya Allah akan membuka peluang lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat bisa terwujud. (galank)

0 comments:

Post a Comment