Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Saturday, 7 June 2014

Mpa’a Manca Dimaknai Melindungi Tamu


KM LENGGE WAWO,- Kalau anda jadi tamu khusus, seperti tamu pemerintahan dalam acara-acara pemerintahan ataupun budaya di Bima maka anda akan disambut meriah dengan kesenian tradisoinal yang mempunyai makna khusus.  

 
Kedatangan Tim penilai Lomba Desa Terintegrasi dengan lomba Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sejahtera (P2WKSS) Tingkat Provinsi NTB disambut dengan berbagai atraksi budaya dan tarian khusus menyambut kedatangan tamu istimewa.

Kedatangan tim penilai disambut di gapura utama desa Maria. Ratusan Warga berjejer menyambut kedatangan tim denga meriah. Ketua tim  Ir Tajudin R Fandi, M.Sc di kalungi selendang khas Bima oleh personel penari penyambutan tamu.

Di Desa Maria sudah menjadi tradisi kalau ada tamu yang datang ke wilayah tersebut maka akan disambut dengan prosesi khusus dan istimewa. Tamu yang datang wajib dihormati, karena bagi masyarakat Bima, kalau ada tamu yang datang ke rumah atau wilayah tersebut  maka membawa keberkahan atau rezeqi.

Kedatanga tamu disambut dengan prosesi tarian Wura Bongi Monca (menabur beras kuning), melambangkan makna bahwa akan dijamu dengan baik dan mereka membawa berkaha bagi yang punya rumah.

Disamping itu kesenian tradisional Mpaa Manca ( tarian perang menggunakan pedang tumpul)  dan Makka Tua (Menginjak Tanah). Mpaa Manca merupakan kesenian tradisonal  perang yang dulunya merupakan tarian untuk perang. Mpaa Manca juga merupakan  Tarian dan adu ketangkasan menggunakan pedang. Orang-orang yang melakukannyapun harus memiliki keahlian khusus dan terlatih. Mpaa manca kini tetap dilestarikan untuk ritual prosesi acara-acara khusus. Bukan saja sebagai seremonial acara tapi lebih punya makna yang dalam. Mpaa Manca menurut kepercayaan orang di Desa Maria adalah perlambangan untuk melindungi tamu yang datang.

Begitu juga Makka Tua dalam bahasa indonesianya Menginjak/menghentak kaki kanan ke tanah dengan keras sambil mengangkat keris mengacu ke atasa sambil berteriak mengatakan sesuatu dalam bahasa bima (mengucapkan bahasa yang baik). Makka Tua juga meruapak kesenian tradisonal yang tetap dipertahankan untuk tradisi acara-acara penting di Bima.  Makka tua hanya dilakukan oleh pihak laki-laki, maknanya bahwa kita laki-laki berani membela kebenaran, melindungi, menegakan kebenaran.

Jadi kalau ada acara pernikahan, sunatan dan menyambut tamu, kesenian tradisional Mpaa Manca dan Makka tua serta Wura bongi Monca merupakan sesuatu yang tetap ada bagi masyarakat Bima pada umumnya. (Efan)

0 comments:

Post a Comment