Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Saturday, 3 January 2015

BINTARA



KM. LENGGE WAWO.- SATU persatu kayu bakar telah selesai kukumpulkan dan kuikat. Sembari menunggu Bintara menyelesaikan ikatan kayunya, aku bersandar sejenak di atas pohon--sekadar melepas lelah dan peluh yang sejak tadi membanjiri tubuhku. Namun, belum sempat aku memejamkan mata, tiba-tiba Bintara berteriak lantang, "Aksa...! Cepat lari...!!!"

Sontak, aku beranjak. Namun, tubuhku mendadak kaku, sakit. Rupanya raksasa penghuni 'Doro Naga'--gunung yang terkenal angker dan peminta tumbal--cekatan menggenggam erat tubuh kami, bak manusia menggenggam lilin.

"Lepaskan kami! Apa maumu, hah?!" ucapku gusar, berusaha membebaskan diri. Tapi nihil.

"Kalian benar-benar manusia tak tahu diuntung! Grrr...," timpal raksasa itu.

"Apa maksudmu?!"

BUGH!
Raksasa itu mengempaskan Bintara. Bintara jatuh terpelanting. Tubuhnya tertusuk semak-semak tajam dan bebatuan. Ia melakukan 'namaskara', berharap diampuni.

"Jangan bodoh, Bintara! Dia tidak patut dihormati seperti itu!"

Bintara tak mengindahkan imbauanku. Ia tetap konsisten dengan posisinya.

"Maafkan kami, Duhai Raksasa. Kami dari 'sujana', hanya numpang singgah di singgasanamu," ucap Bintara merendahkan diri.

"Bangu...."

BUGH!
Giliran aku yang diempas raksasa itu. Tubuh kecilku terlempar sangat jauh. Sakit sekali. Peluh kini sewarna darah. Aku kian gusar. Sangat marah. Berusaha melawan.

CAAAKKK!!!
Aku mengapak telapak kaki raksasa itu. Namun, itu tak dapat membuatnya sakit. Aku mendesah. Mencoba sekali lagi. Nihil. Lalu, bak 'duli', ia menendangku keras. Tubuhku pun roboh dengan kepala tertusuk batang pohon.

"AKSA...!!!"

Terdengar samar, namun kuyakin itu adalah sebuah teriakan dari Bintara.

"AKSA...!!!" suara yang--mungkin--keluar dari mulut Bintara itu masih terdengar sama. Namun, belum sanggup kutimpali. Sebab, napasku tersenggal.

"Aksa..., kamu di mana, Nak?"

Hah?! Aku kaget bukan kepalang. Sejak kapan aku menjadi anak Bintara? Memang, usianya terpaut lima tahun lebih tua dariku. Tapi, setahuku ia belum beristri. Pun, mustahil perbedaan usia lima tahun adalah ayah-anak. Merasa penasaran, kuputuskan untuk tidak cepat menyerah kepada-Nya. Seperti mendapat mukjizat, aku merasa kuat kembali meski pandangan masih agak rabun.

"Aku di sini." Akhirnya aku bisa bersuara, namun terdengar tercekat.

"Ah, dasar! Dicariin ke mana-mana juga. Baru ditinggal sebentar sudah menghilang. Itu hutan, tahu!"

"Menghilang??? Raksasa tadi???"

"Ngawur! Buruan turun!"

Aku bingung. Sejak kapan aku berpindah tempat? Bukankah dari tadi aku di sini, bersama dia yang dihantam raksasa?

Kuperhatikan seluruh tubuh, tidak ada luka, darah, atau bekas-bekas luka. Hanya peluh yang kian lengket. Jangan-jangan....

Lalu, aku mencoba mem-'flashback' ingatan ke beberapa puluh menit yang lalu.

"Aksa diam di sini, jangan ke mana-mana. Aku cari 'humpa' dulu," pesan Bintara dalam rekaman ingatanku. Kemudian, sembari menunggunya, aku bersandar di atas pohon.

Ah, sial. Aku sempat terlelap, batinku paham.

"TAPI..., yang memanggilku anak tadi siapa?!" tanyaku bingung kepada Bintara.

Keli, 19 November 2014, Baba Khan

Kata yang berpetik satu maksudnya ditulis miring.
Ralat:

Kata 'itu' di dialog ini seharusnya 'ini'.
"Ah, dasar! Dicariin ke mana-mana juga. Baru ditinggal sebentar sudah menghilang. (Itu) hutan, tahu!

Post by : galank 

0 comments:

Post a Comment