Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Sunday, 3 May 2015

Pelajaran Berharga dari Sang Penjual Remot


KM LENGGA WAWO,-  Negara Kesatuan Republik Indonesia meruapakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia memiliki hutan yang luas dengan keanekaragaman jenis flora dan faunanya, areal pertanian dan perkebunan yang luas, wilayah perairan yang luas, dan bahan galian yang bermacam-macam. Negara Indonesia juga merupakan negara penghasil minyak bumi dan bahan tambang lainya.


Namun pemerintah belum mampu mengatasi masalah lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. Bahkan orang Indonesia memilih mencari pekerjaan di luar negeri akibat sempitnya lapangan pekerjaan di tanah sendiri.

Ditengah kurangnya lapangan pekerjaan, susahnya mencari sesuap nasi, banyak masyarakat dan orang-orang tegar yang berjuang dengan semangat tanpa menyoroti keadaan pemerintah karena tidak mampu mengelola sumber daya alam untuk lapangan pekerjaan untuk anak negeri.

Kisah seorang penjual remot dari Kampung Samparwadi Propinsi Banten, propinsi yang penuh dengan lapangan pekerjaan dibanding propinsi lainya di Indonesia karena disana terdapat pabrik-pabrik industry yang dapat mempekerjakan ribuan orang disekitarnya.

Tetapi di sudut-sudut kota dan kampung masih ada masyarakat yang masih belum tersentuh oleh lapangan pekerjaan, Seperti yang di alami oleh pemuda asal Banten bernama Hanafi. Berikut kisah dan catatan Efan tentang kisah Sang Penjual Remot.

Siang itu matahari terasa sejengkal di atas kepala, panas dan terik terasa  menyengkat ketika matahari beranjak dipuncak siang. Aktifitas masyarakat mulai berkurang  karena waktu isrtahat tiba. Pukul 01.30 wita terdengar suara seorang pemuda menjajakan barang dagangannya.

Tegar, masih semangat suara itu mengusik isrtahat kami saat berada di secretariat Kampun Media Lengge Wawo. Suara seorang pemuda itu masih semangat dan sesekali terdengar dari kejauhan pemuda dengan membawa tas ransel di punggungnya….Remot….remot…. Suara itu terdengar semakin mendekat didepan secretariat KML.

Saat itu kami sedang berkumpul untuk berkoordinasi tentang keaktifan anggota KML dalam peliputan berita, seorang pemuda ini lewat di depan gang Sekretariat  KML, “Pak Beli Remot”ujarnya. Oh iya…mas sebentar masuk dulu kesini, ujar  Sadam anggota KML. Sambil bergegas pemuda ini masuk dan kami persilakan duduk bergabung dengan kami, sambil ngobrol dan perkenalkan diri, pemuda ini dengan ramah dan rendah diri kami persilahkan untuk mencicipi jajanan pasar dan kopi yang kami suguhkan.

Saya meminta kepada Hanafi untuk Sudah lima tahun, Hanafi nama panggilan pemuda asal Propinsi Banten ini biasa disapa. Berada di Bima. Awalnya menginjakan kakinya di Bima tahun 2009 diajak oleh Bosnya yang sebelumnya merupakan bosnya di Banten. Berbagai Remot TV, receiver parabola, kipas angina, DVD dan barang elektronik lainya ini merupakan barang dagangan sang bos Mulya asal dari Banten juga. Puluhan remot ini di datangkan dari Jakarta oleh Bos Mulya.

Awal mula Hanafi terjun dan bergelut dengan berjualan remot ini, karena sudah tidak ada lahan pekerjaan lain di kampunngya sehingga himpitan ekonomi keluarga mendesak. Profesi menjual Remot sudah dilakukannya sejak tamat SMP. Sehingga menjual remot tetap dilakaukan untuk membantu ekonomi keluarga dan biaya sekolah tingkat SMAnya. 4 saudara Hanafi juga adalah berprofesi sebagai penjual remot juga. Di Kampunnya semua saudaranya bahkan hampir 30 porsen pemuda di kampunngya penjual Remot

Di Desa Samparwadi Propinsi Banten dia awalnya tinggal bersama kedua orang tuanya, Mislar dan Juha. Pasangan suami istri ini dikarunia 8 anak, Kedua orang tuanya berprofesi sebagai buruh tani. Dengan menggarap sawah seluah 3 Mislar dan Juha mampu menghidupkan dan menyekolahkan  ke 8 orang anaknya ke tingkat SMA dan ada juga yang hanya lulus SMP.

Pada tahun 2007,  Hanafi mendapatkan ujian dan musibah ibunya meninggal dunia, betapa sedih dan terpukulnya dia saat itu karena tidak bisa melihat ibunya untuk terakhir kali, karena Hanafi saat itu sedang betrada di Sulawesi Selatan untuk menjual remot juga. Setelah sebulan remot terjual dan mendapatkan uang untuk pulang, dia kembali ke Banten untuk berjiarah ke makam ibunya. Setelah ibunya meninggal, 1 tahun kemudian, ayah Hanafi Mislar menikah lagi.

Muhammad Hanfi nama lengkap pria kelahiran Banten 27 silam, dengan penampilan rapi ini merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara. Semua saudaranya telah berkeluarga hidup terpisah dengan kedua orang tua  mereka.

Pada tahun 2010, Setelah uang terkumpul Hanafi kembali ke Banten dan menikahi gadis desanya bernama Nety (20 tahun) satu desa dengannya 4 tahun lalu telah dikaruniai 2 orang anak, yang pertama umur 2,5 tahun dan yang kedua berumur 1,5 tahun.

Dengan tekad hanya ingin mendapatakan kehidupan yang lebih baik dan menghidupkan keluarga kecilnya walaupun masih menumpang tinggal bersama kedua orang tuanya Hanafi kembali ke Bima untuk menjalani aktifitasnya menjual remot. Dia lelaki yang  tetap berkomitmen bertanggungjawab untuk menafkahi keluarganya.

Dulu sebelum berjualan remot lalu hanya memebantu kedua orang tuanya menggarap sawah milik orang tuanya. Kadang-kadang disela waktu penggrapan sawah lalu menyambi menjadi kuli bangunan atau pekerjaan apa saja di kampungnya. Setelah menikah dengan gadis pilihannya, orang tua lalu memberikan sebagian sawah garapan orangtuanya kepada 2 orang kakaknya, sehingga sawah yang digarap orang tua lalu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lalu dan keluarga serta kedua orang tuanya.

Dengan keadaan seperti ini akhirnya Hanafi berinisatif mencari pekerjaan lain, menuju kota Tangerang Banten, untuk mencari pekerjaan. Banyak profesi yang telah dia lakoni sebelunya mulai dari buruh bangunan berjualan obat dan lain-lain. Sehingga akhirnya dia berkenalan dengan Mulya Bosnya skarang,  pria asal Banten yang profesi awalnya berjualan remot juga, namun telah berhasil dengan kegigihannya. perkenalan dengan Mulya dan ngobrol tentang prospek dan cara penjualan remot ini akhirya Hanafi mencoba untuk berjualan remot. Awalnya coba-coba namun  dengan semangat bekerja dia akhirnya menggeluti benar profesi ini.

Sitem penjulan sejumlah remot dari berbagai merk ini, stok yang berada di toko bosnya di ambil dengan ketentuan 60 sampai 70 remot bahkan bisa sampai ratusan buah remot. Harga yang ditawarkan adalah 55  ribu rupiah hingga 80 ribu rupiah tergantung merk remotnya.  Dari harga 1 remot dengan harga 55 ribu misalnya mendapat untuk 20 hingga 25 ribu per remot dan sisanya dia setor ke Bos.

Tetapi ada juga penjual remot yang menggunakan system membeli  dengan modal sendiri dengan harga aslinya di pedagang penyuplai  untuk dijual sendiri tanpa disetor lagi ke pedagang penyuplai remot. “Namun kata lalu, resikonya kalau tidak ada orang yang beli dari sejumalah barang yang dibeli banyak misalnya bias rugi, tetapi kalau saya laku gak laku barang yang gak terjual bias dikembalikan ke bos penyuplainya”, ujar Hanafi.

Barang dagangannya dijual dari rumah ke rumah atau dari kantor ke kantor, dengan berjalan kaki menelusuri jalan raya, gang-gang memasuki pemukiman penduduk kadang lewati pematang sawah dan bukit-bukit yang daerah kampungnya memiliki karakteristik wilayah persawahan dan berbukit menawarkan kepada masyarakat yang ingin membeli remot.

Kegigihan pria 26 tahun yang lahir 18 Juli 1987 ini patut di acungi jempol, dia telah menempuh perjalan kurang lebih ribuah kilometer selama menggeluti profesi ini. Beberapa wilayah di Indonesia pernah di jajali, dari Lampung, Kalimantan Barat, Makasar, Ambon, Nusa Tenggara Barat, Lombok Sumbawa, Dompu dan Bima telah dia jelajah untuk menawarkan barang dagangannya. “Cara berjualannya memang saya dan teman-teman harus berjalan kaki karena keluar masuk pemukiman dan perkampungan penduduk kecuali dari kota kekota atau dari kabupaten ke kabupaten memang harus menggunakan kendaraan umum”, ujarnya.

“Banyak juga masyarakat yang membutuhkan remot, karena remot televisi mereka yang lama rusak sehingga masyarakat membeli remot yang kami jual. Jenis remot yangkami jual juga dari berbagai merk seperti, toshiba, sony, politron, dan ada juga remot merk lain. Yang paling mahal ini remot dengan merk-merk tertentu seperti sony, toshiba, Sharp rata-rata dijual dengan harga 80 sampai 85 ribu rupiah perbuah karena merk ternama ini sama dengan yang dijual oleh toko-toko elektronik yang jual remot”, ujar Lalu.

Hanafi hanya menamatkan pendidikan sampai SMP, saat sekolah di SMPN Tirtayasa Banten dia banyak belajar dari para guru-gurunya tentang nasehat mangarungi hidup. Yang selalu dia ingat adalah pesan dari guru agamanya ketika SMP adalah modal utama dalam mengarungi kehidupan ini adalah kejujuran. Pesan sederhana dari sang guru tetap ia pegang teguh hingga sekarang.

Walaupun hanya tamatan SMP Hanafi terus belajar dari pengalaman hidup dan proses kehidupannya. Memang dia tidak memiliki kompetensi khusus dalam hidupnya, hanya modal utamanya adalah bekerja keras dan jujur. “ Yang tetap saya lakukan dalam bekerha dan hidup ini Cuma satu pak.... yaitu kejujuran dan bekerja keras”, ujar Hanafi bercerita dengan semangat saat diwawancarai.

Dengan Modal bekerja keras dan jujur dalam berjualan remot, berapapun yang dia dapatkan dari menjual remot tetap disyukuri. Dalam sehari dia berusaha untuk tetap berjualan dengan target 3 ato 4 unit remot yang bisa ia jual. Dengan harapan remot yang dijual dengan harga 35 ribuh rupiah ataupun 50 ribuh rupiah dia bisa mendapatkan keuntungan 20 hingga 25 ribuh rupiah perunitnya. Dari Keuntungan 20 ataupun 25 ribuh rupiah perunit kalau 3 sampai 4 unit remot terjual bisa menfdapatkan untung 80 sampai 100 ribu rupiah. Sehingga untuk makan dan uang transportasi hanya menghabiskan 30 hingga 50 ribu rupiah sehari, jika berjualan hanya di wilayah kabupaten Bima.

Selama ini dia berjualan dari kabupaten ke kabupaten hingga masuk ke wilayah desa-desa. Misalnya ketika saya dari Kabupaten Dompu menuju Kabupaten Bima kemudian ketika menjajalkan barang dagangannya di Bima biasa tidur di kos temannya atau kontrakan temannya. Tetapi bosnya menyuruh untuk tetap kembali ke Kota Bima, karena bos nya mengontrak rumah. 

Dalam perjalanan menjual remot kadang-kadang Mesjid kerap kali disinggahi untuk berteduh hanya untuk istrahat ketika malam tiba. Keesokan harinya dia harus buru-buru bangun untuk sholat Subuh dan terus berjalan menjajalkan remot dagannya. “Walaupun capeh dan pegal-pegal ketika menyusuri perkampungan dan pemukiman saya tidak pernah meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim pak.....yaitu sholat 5 waktu, karena menurut saya doa dan usaha ibarat badan dengan roh dan tetap mensyukuri nikmat pemberian Allah Swt   ”, ujarnya dengan suara lirih.

Anak dan istrinya di Banten menjadi cambuk dan motifasinya untuk tetap bekerja tanpa rasa lelah, bila kangen dengan anak dan istri Hanafi hanya bis abersua dan bercanda neanyakan keadaan anak istrinya lewat telepon selular. Bila hasil penjualan yang ditargetkan bosnya Hanafi kadang dalam setahun bisa pulang ke Banten 3 sampai 4 kali dalam setahun.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 14.58 witta, Hanafi nampak tergesa usai meneguk kopi dan air putih serta jajan yang kami hidangkan. Akhirnya Dia pamitan ke kami yang duduk mendengarkan cerita perjalanan hidupnya, kami duduk terdiam dan terpaku mendengar kisah perjalan Lalu yang begitu tegar dan semangat menjalani hidupnya.

Pelajaran yang sangat berharga yang kami dapatkan dari seorang Hanafi yang hanya menamatkan pendidikan di bangku SMP. Bekerja dengan keras pantang menyerah, jujur dalam mengarungi kehidupan dan tetap beribdaha dan berdoa, itu kalimat yang kami ingat dari seorang Hanafi Penjual Remot.

Jangan pernah meremehkan seseorang dengan melihat pekerjaanya atau profesinya, tapi niat tulus seseorang bekerja tanpa pamrih dengan harapan bahwa Tuhan tidak pernah buta menilai setiap apapun pekerjaan kita dengan hati dan keihlasan karena suatu saat nanti akan ada kesempatan yang lain di waktu dan kesempatan yang lain tuhan memberi rezeqi atas usaha dan kerja kita selama ini.

Ditengah, sempitnya lahan pekerjaan, naiknya harga barang akibat kebijakan pemerintah menaikan BBM, Hanafi tetap tegar dan menjalani profesinya, Padahal kayanya sumber daya alam Negara Indonesia harus mampu mengatasi permasalahan pengangguran dan lapangan pekerjaan bagi warganya.
“Saya pamitan mas.....terimakasih atas hidangannya”ujar Hanafi sambil berlalu dihadapan kami.....kami tertegun, terdiam, masing-masing merenung.......... (Efan)

0 comments:

Post a Comment