Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Thursday, 7 May 2015

Ada Keriangan Di Tumpukan Jerami



KM. LENGGE WAWO,- Beberapa bulan yang lalu, saat musim tanam tiba, hamparan sawah disini,di kawasan persawahan masyarakat wawo, adalah suatu pemandangan yang sangat menakjubkan.  


Sawah adalah lingkungan yang merupakan pemandangan pertama yang terlihat ketika membuka jendela saat pagi mulai menyentuh bumi. Ketika baru ditanam dan diairi, sawah menyajikan pemandangan yang luar biasa dengan hamparan hijau dan suara gemericik air yang turun dari satu sawah ke sawah lain yang lebih rendah. Belum lagi suara net – net  katak sawah.


Ketika padi menguning, adalah saat dimana penunggu sawah bekerja ekstra keras mempertahankan padi mereka dari serangan burung yang dalam bahasa bimanya disebut kar’i, terlihat bagaimana kelompok burung tersebut menyerang seperti kumpulan awan hitam, saking banyaknya. Yang bisa dilakukan penunggu sawah adalah memasang sadahu(orang orangan sawah) di tengah sawah yang diikatkan dengan seutas tali yang berujung di gubug atau salaja yang berada dipinggir sawah, walaupun burung burung masih juga sempat mencuri curi disaat para penunggu lengah.


Dan tatkala musim panen tiba, dan hal inilah yang paling ditunggu tunggu oleh para petani, tidak terkecuali anak anak Wawo, anak anak yang identik dengan pertanian, musim panen tiba adalah musik bermain di sawah, setelah lelah membantu para orang tuanya memanen padi biasanya yang menjadi sasaran selanjutnya adalah batang batang padi sisa sabitan, batang batang ini biasanya dipotong tepat di antara dua ruas, dilekukan sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara tet – tet seperti terompet, Lumayan lah, bisa untuk sekedar rame-rame, meskipun tidak banyak nada yang bisa dimainkan. 




Setelah semua perswahan selesai dipanen, dan padi padi kering telah dimasukkan ke lengge dan jompa, ternyata keriangan tidak berakhir, dan itulah yang terlihat sekarang pada saat sawah sawah di belakang perkampungan penduduk masyarakat wawo kosong dan menyisakan jerami jerami kering, areal itu dijadikan ‘playground’ oleh anak anak, kaki kaki kecil mereka terlihat sibuk berlari hilir mudik dan bermain dan yang paling diminati adalah menumpuk jerami jerami kering itu dan menjadikannya matras dadakan, sebuah ritual anak anak wawo, anak anak sawah.


Mudah mudahan keadaan ini tetap terjaga, dan sawah sawah masyarakat wawo tetap ‘menghasilkan’. Bagaimanapun juga dari sinilah hidup itu berasal. Makanya, bicara sawah ternyata tidak sederhana, karena artinya kita sedang membicarakan sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan budaya manusia, bagi yang pernah menjadi anak anak sawah, melihat pesawahan adalah seperti melihat kilas balik ketika masih masa anak anak, masa masa menikmati sebuah keriangan di sawah, hanya jangan sampai generasi kita kelak akan mencari sang pencerita yang akan menjelaskan bagaimana ‘lumbung hidup’ itu, serta bagaimana ritual keriangan yang menyertainyanya. (GALANK)


1 comments:

Post a Comment