Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Monday, 26 May 2014

Jaidun, Tegar Ditengah Cemooh dan Ledekan Orang


KM LENGGE WAWO,- Tidak ada yang tahu nasib seseorang kedepan akan seperti apa, kita hanya bisa beruasaha dan berdoa dalam hidup ini, karena berusaha dengan sekuat dan semampu kita yang disertai dengan doa insallah semua pekerjaan kita akan selalu diridhoi oleh Tuhan yang Maha Esa. 



Dalam kehidupan ini kegiatan dan pekerjaan apapun yang menjadi profesi kita tetap jalani dengan berusaha dan disertai doa agar berhasil dan sukses. Tidak ada sukses dengan berpangku tangan dan berdoa saja, tapi sukses harus melewati berbagai proses dalam kehidupan.

Lalu lalang, masuk gang-gang di perkampungan di kecamatan Wawo dari Desa Ntori hingga Desa Raba yang berjarak sekita 7 kilometer, Mengantar surat, Wesel maupun paket menjadi makanan sehari-hari tanpa lelah bagi Haikal Mudatsir pemuda 33 tahun ini yang kesehariannya selalu berpenampilan Rapi ini. Ya....itulah kegiatan dan Profesi dia sehari-hari menjadi Tukang Antar (Pak Pos) muda di Perusahaan BUMN PT. Pos Kecamatan Wawo.

Dierah Informasi dan teknologi serba online ini perusaan BUMN negara ini PT. Pos sempat dilupakan dan disepelekan oleh orang, karena surat menyurat sudah tergantikan dengan SMS lewat HP ataupun berbicara langsung lewat media Handphone. Begitupun dengan jasa pengiriman yang semakin menjamur yang menawarkan pengiriman expres, pengiriman uang lewat Bank melalu ATM, akan tetapi PT Pos mampu berbenah untuk menghadapi tantangan jaman.

Tidak terbayangkan oleh Haikal Mudatsir yang kesehariannya biasa disapa Jaidun Bechkam Pria kelahiran Maria 28 April 1984 ini menjadi tukang POS. Profesi ini biasanya kita lihat hanya dilakoni oleh bapak-bapak yang berumur sekitar 40-50an tahun, tapi dengan hati yang penuh iklhasdan dedikasi terhadap pekerjaannya Jaidun enjoi melakoni sejak 15 tahun lamanya.

Jaidun telah menjalani profesi ini sejak duduk dibangku Sekolah SMP 1 Wawo. Berbagai cercaan, cemooh dan ledekan dari teman-teman sekolah dan orang dikampungnya mampu dia jawab dengan senyum. Sejak Sekolah di SMP dia sudah sembari bekerja sejak tahun 1999. Jaidun tahu awalnya pekerjaan ini dia kerjakan hanya untuk membantu pamanya pak Syamsudin juga sebagai Tukang Pos mengantar kiriman ke rumah-rumah disekiat desa Maria yang dekat dengan kantor tersebut. Dia sadar betul sejak ditinggal oleh kedua orangtuanya  dia asuh oleh pamanya Syamsudin. Maka membantu pekerjaan paman sekaligus bapak angkatnya adalah keharusan baginya.


Setamat dari SMA  pada tahun 2005 laki-laki yang hobi sepak bola ini, tetap melanjutkan dan menjalani pekerjaan ini, kalau teman-temanya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka karena keterbatasan biaya dia putuskan untuk tetap bekerja sebagai tukang Pos. Ada keinginannya untuk kuliah tapi melihat keadaannya pada saat itu diurungkan niatnya untuk membicarakan hal tersebut dengan pamanya. Pada tahun 2005 setamat SMA dia resmi diangkat untuk mengabdikan diri menjadi tenaga honorer pada PT. Pos Wawo.

Hari berganti, musimpun berlalu dari tahun ke tahun, profesi yang dimata sebagian orang dianggap pekerjaan tidak bergengsi pada saat itu, tapi bagi Jaidun dia jalani dengan penuh rasa syukur, ikhlas dan sepenuh hati. Mengantar amanat orang adalah ibadah yang tak tenilai besarnya, karena ini menyanggkut amanat kata jaidun. “Kalau dalam Islam Kiriman orang ini adalah Titipan, jadi kalau titipan Wajib disampaikan, ya..... pekerjaan saya ini penuh resiko juga, kalau kiriman orang tidak sampai maka saya akan dimarahin Bos, tapi bagi saya bukan masalah dimarahin atasan tapi bentuk rasa tanggungjawab saya kepada orang tersebut dan Allah SWT, karena ini adalah amant yang wajib disampaikan”, ujarnya sambil tersenyum sembari menegak kopi dihadapannya.

Pekerjaan ini bagi jaidun adalah pekerjaan yang penuh tantangan dan berisiko juga, kalau barang kiriman telat disampaikan, maka kadang-kadang omelan ataupun teguran akan dia dapatkan, namun kadang-kadang hal ini menjadi cambuk penyemangat bekerja lebih cepat dab baik lagi. Kadang-kadang untuk meringankan pekerjaannya kalau ada kiriman, wesel, surat ataupun gaji pensiunan yang tidak sempat disampaikan pada saat jam kerja dia serahkan pada sore hari bahkan hingga malam hari. Hal ini dia lakukan karena dia tahu orang sudah menunggu kiriman ini.

Pada tahun 2008 Jaidun memutuskan untuk menikahi gadis yang lebih muda 7 tahun bawahnya. Petemuan dengan Ika Ramadani ini pada tahun 2007 di pusat perbelajaan Kota Bima membuatnya Jatuh cinta dan 1 tahun menjalani hubungan denga perempuan ini maka dia nikahi dengan penuh cinta. Jaidun tidak sembarang memilih perempuan yang akan mendampinginnya tapi harus mampu mengerti kehidupan dan mengerti pekerjaan dia. Maka Ika gadis asal Kampung Nggaro Lo Kota Bima tempat dia melabuhkan hatinya.

Setelah Menikah ternyata ketekunan dan keuletan Jaidun bekerja tambah semangat, karena dia harus mampu menghidupakan dirinya sendiri dan istrinya saat itu. Apalagi setelah buah cinta mereka lahir Ika Saputri dan Almair Azmil Khadan, Tanggung jawabny bertambah menjadi 4 orang. Jaidun harus berpikir keras untuk membuka usaha sampingan. Saat itu istrinya bekerja di swalayan untuk membantu ekonomi keluarga, namun karena terlalu memakan biaya dan jauh di Kota Bima maka Jaidun memutuskan melarang istrinya untuk bekerja. Namun mereka membuka usaha jualan seperti jual salome, es campr sempat dilakoni bersama istrinya untuk membantu ekonomi keluarganya.

Dengan semangat keuletan serta usaha dan Doa Jaidun tetap menjalankan profesinya menjadi tukang Pos, karena pekerjaan ini pekerjaan yang mulia, namun dia sempat kecewa karena sampai saat ini belum diangkat menjadi pegawai tetap di PT. Pos Indonesia. Namun kekecewaan ini dia jadikan motifator untuk tetap bersemangat dan terus bekerja denga hati yang iklas, karena menurut Jaidun Tuhan tidak buta dan tuli. “Saya yakin suatu saat nanti entah lama ataupun sebentar lagi doa, suara hati saya dan keihlasan serta sesabaran serta ketegaran hatinya menjalani pekerjaan ini akan dijabah oleh Allah SWT setelah 15 tahu saya mengabdi”ujarnya sambil tersenyum ke arah saya saat obrolan itu.

Semangat juang pantang menyerah yang dijalani oleh Jaidun dalam kehidupan ini ini merupakan motivasi  yang harus kita tauladani. Apapun pekerjaan, usaha dan profesi kita asalkan kita menjalani dengan semangat, tegar, penuh kesabaran dan ketabahan, hati yang ihlas dan berusaha serta disertai doa, insallah apapun yang menjadi cita-cita kita akan tercapai......  (Efan)

1 comments:

Post a Comment