Kampung Media Lengge Wawo, Sekretariat: Jalan Lintas Bima - Sape Km.17 Kompleks Lapangan Umum Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, Telepon: 0374-7000447. Bagi yang ingin mengirim Tulisan Berita atau Artikel hubungi Nomor HP: 081803884629/085338436666

Friday, 27 December 2013

Gubernur NTB Pimpin Upacara Pemakaman Bupati Bima

 

KM. LENGGE WAWO,- Gubernur NTB selaku Inspektur upacara prosesi pemakaman almarhum Bupati Bima, H Ferry Zulkarnain, ST, Dr H Zainul Majdi, MA, mengingatkan bahwa peristiwa kematian pasti menghampiri siapapun, termasuk dirinya yang berbicara. Namun, kematian itu merupakan pintu bagi manusia untuk menguji siapa yang terbaik amalan ibadahnya.
Masyarakat Provinsi NTB khususnya masyarakat Bima, merasakan kedukaan yang mendalam atas meninggalnya Bupati Bima, H Ferry Zulkarnain, ST, Kamis (26/12) sekitar pukul 07.00 Wita, setelah pada beberapa saat sebelumnya almarhum meninjau kondisi banjir pada beberapa kecamatan di Kabupaten Bima.

“Kita doakan dengan hati yang paling dalam agar jasa-jasa beliau selama memimpin Kabupaten Bima menjadi amal ibadah yang cukup untuk menghadap Allah,” ujarnya usai prosesi pemakaman di Danatraha Kelurahan Dara, Jumat (27/12).
Bagi orang yang beriman, katanya, kematian bukanlah masalah, tetapi yang diperlukan apa yang dibawa saat menghadap Allah. Maka Rasulullah SAW mengingatkan, penasehat itu ada dua yakni yang berbicara dan yang diam. Nasehat yang berbicara adalah Al Quran yang senantiasa dibaca, sedang yang diam adalah kematian.
Setiap menyaksikan kematian, seperti almarhum H Ferry Zulkarnain, ST mengingatkan siapapun untuk bersegera bertaubat dan senantiasa menyiapkan bekal menuju haribaan Allahu Rabbi.Tidak hanya itu, katanya, bagi yang masih hidup agar menanamkan komitmen dan semangat untuk lebih banyak lagi membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa dan negara.
Terakhir perjumpaan dengan beliau, katanya, pada tanggal 19 Desember saat penyerahan Dipa bagi seluruh Bupati dan Wali Kota di Provinsi NTB tepat seminggu sebelum almarhum dipanggil Allah. “Saya ingat sekitar pukul sembilan kurang 15 beliau mengirim SMS yang isinya. Saya sudah sampai di Mataram tetapi saya sakit dan saya tidak bisa hadir,” ucapnya.

 Pihaknya memerintahkan anak buahnya untuk mengecek keberadaan beliau, tetapi staf melaporkan bahwa Bupati Bima hadir di depan. Sekitar lima menit keluar dan menemui beliau dan beliau yang pertama disalami. “Saya menyapa Bapak Bupati sakit, tetapi dijawab saya sakit dan saya mau ikut acara ini. Saya merujuk ucapkan itu kepada yang lain agar menjadi contoh bahwa meski dalam kondisi sakit beliau Bupati Bima masih mau ikut acara itu,” katanya.
Oleh karena itu, katanya, kenangan terakhir dengan beliau adalah kenangan bagi seseorang yang telah siap berangkat dari Bima menempuh perjalanan jauh ratusan kilometer di Mataram untuk menjalankan tugas dan pengabdian kepada bangsa dan negara dalam menjalankan amanah rakyat. Bahkan, dalam keadaan yang tidak sehat. “Cukuplah itu semua menjadi pelajaran bagi kita semua dan kita mendoakan beliau semoga menjadi akhir yang baik husnul khatimah. Saya sanggup bersaksi dihadapan Allah, bahwa beliau berjumpa dengan saya bukan dalam suasana berleha-leha, tetapi saya saksikan beliau menjalankan tugas dengan penuh tanggungjawab,” katanya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, katanya, agar tabah menghadapi musibah itu dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena orang yang husnul khatimah itu malaikat itu berseru dalam tiga hal yakni, janganlah takut dan jangan bersedih meninggalkan keluarga dan bergembiralah dengan kabar akan diberikan surga oleh Allah. (HMN)

0 comments:

Post a Comment